Loading...

::Teman Bersama::

Isnin, 13 Oktober 2008

BID’AH

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن نصرهووالاه


BID’AH



Baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihhi Wassalam memperbolehkan berbuat bid’ah hasanah.


Nabi Muhammad Shollallahu Alaihhi Wassalam memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.


Perhatikan hadits Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam, bukankah Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.


Alangkah indahnya bimbingan Nabi SAW yang tidak pernah menekan ummat, Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tetapi ribuan tahun akan berlanjutan dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, kemaksiatan yang bermaharajalela, maka tentunya pastilah diperlukan perkara-perkara yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan, demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan diguna dan dipakai hingga akhir zaman, inilah makna ayat :


“ALYAUMA AKMALTU LAKUM DIINUKUM…”, yang artinya “hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuredhai ISLAM sebagai agama kalian”,


Maksudnya, semua ajaran Islam telah sempurna, tidak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini, semua hal yang baru selama itu baik sudah masuk dalam kategori syariah dan sudah direstui oleh ALLAH Subhannahu wa Taala dan Rasul Nya, alangkah sempurnanya Islam, bila yang dimaksudkan adalah tidak ada lagi penambahan, maka pendapat itu salah, kerana setelah ayat ini masih ada banyak ayat-ayat lain turun, masalah hutang dan lain-lain, berkata para Mufassirin bahawa ayat ini bermakna Makkah Al-Mukarramah sebelumnya selalu dimasuki orang musyrik dengan mengikuti orang muslim yang menunaikan haji, mulai kejadian turunnya ayat ini, maka Musyrikin tidak lagi masuk Masjidil Haram, maka membuat kebiasaan baru yang baik, maka ia dibenarkan.


Namun, tentunya bukan membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul SAW, atau menghalalkan apa-apa yang sudah diharamkan oleh Rasulullah SAW atau sebaliknya, inilah makna hadits Baginda SAW: “Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan...”, inilah yang disebut Bid’ah Dhalalah.


Baginda SAW telah memahami itu semua, bahawa pada zaman akan datang akan ada keperluan fiqiah ummah, maka baginda SAW memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), serta menganjurkan kita untuk melaksanakanya, agar ummat tidak terhimpit dengan hal yang ada dizaman kehidupan Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam sahaja.


Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid’ah dhalalah). Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah sahaja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits diatas telah jelas tidak menyebutkan batasan hanya untuk sedekah sahaja, terbukti dengan perbuatan bid’ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi’in.


Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasulullah Shollallahu Alaihhi Wassalam?


Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran ke atas para sahabat (Ahlul yamaamah) yang mereka itu para Huffadh (yang hafal) Al-Qur’an dan Ahli Al-Qur’an di zaman Khalifah Abu Bakar Asshiddiq ra. Telah berkata Abu Bakar Ashiddiq ra kepada Zayyid bin Tsabit ra : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abu Bakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Al-Qur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi ALLAH ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sehingga ALLAH SWT menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (Zayyid) adalah pemuda, cerdas, dan kami tidak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah A-Qur’an dan tulislah Al-Qur’an..!” Berkata Zayyidd : “Demi ALLAH sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Al-Qur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah SAW?”, maka Abu Bakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sehingga ALLAH SWT menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Al-Qur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).


Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas, Abu Bakar shiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai ALLAH SWT menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”, hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) iaitu mengumpulkan Al-Qur’an, kerana sebelumnya Al-Qur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tetapi terpisah di hafalan para sahabat, ada yang tertulis di kulit unta, di tembok dan dihafal, ini adalah Bid’ah hasanah, justeru mereka berdualah yang memulainya.


Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan, diriwayatkan bahawa Rasulullah SAW selepas melakukan solat subuh Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati kami bergoncang, dan membuat airmata kami mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan-akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri dan wasiatilah kami..” maka Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada ALLAH Subhannahu Wa Taala, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak afrika, sungguh di antara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal hal yang baru, sungguh semua yang Bid;ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits no.329).


Jelaslah bahawa Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam menjelaskan kepada kita untuk mengikuti sunnah baginda dan sunnah khulafa’urrasyidin, dan sunnah Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tidak melanggar syariah. Bagi sunnah khulafa’urrasyidin, anda perhatikan bagaimana Abu Bakar shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam iaitu pembukuan Al-Qur’an, lalu pula penulisan Al-Qur’an telah selesai ditulis kembali dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.


Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di kalangan ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abu Bakar shiddiq ra dimasa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Al-Qur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906) lalu pula selesai penulisan Al-Qur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Al-Qur’an kini dikenali dengan nama Mushaf Utsmaniy, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu.


Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam adalah dua kali azan di solat Jumaat, tidak pernah dilakukan dimasa Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam, tidak dimasa Khalifah Abu Bakar shiddiq ra, tidak pula dimasa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan semasa Utsman bin Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bulkhari hadits no.873).


Siapakah yang salah dan tertuduh?, Siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?

Adakah pendapat mengatakan bahawa keempat Khulafa’urrasyidin ini tidak faham makna Bid’ah?



Bid’ah Dhalalah


Jelas sudah, bahawa mereka yang menolak bid’ah hasanah inilah yang termasuk dalam golongan Bid’ah dhalalah, dan Bid’ah dhalalah ini banyak jenisnya, seperti penafian sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat Khulafa’urrasyidin.


Nah…di antaranya adalah penolakan atas perkara baru selama itu baik dan tidak melanggar syariah, kerana hal ini sudah diperbolehkan oleh Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam dan dilakukan oleh Khulafa’urrasyidin, dan Rasulullah Shollallahu Alaihhi Wassalam telah jelas menyatakan bahawa akan muncul banyak ikhtilaf, berpeganglah kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafa’urrasyidin, bagaimana Sunnah Rasulullah Shollallahu Alaihhi Wassalam?, Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam membolehkan Bid’ah hasanah, bagaimana sunnah Khulafa’urrasyidin?, mereka melakukan Bid’ah hasanah, maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid’ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasulullah Shollallahu Alaihhi Wassalam.


Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid’ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid’ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam kerana kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah daripada Rasulullah SAW untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing, melainkan hal itu merupakan ijma’ atau kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu’anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah SAW wafat.


Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dan lain-lain ini juga tidak pernah ada perintah daripada Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam untuk membukukannya, tidak pula Khulafa’urrasyidin memerintahkan menulisnya, namun para tabi’in mulai menulis hadits Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam.


Begitu pula Ilmu Musthalahulhadits, Nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan darjat hadits, ini semua adalah perbuatan Bid’ah namun Bid’ah Hasanah.


Demikian pula ucapan “Radhiyallahu’anhu” atas sahabat, tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, tidak pula oleh sahabat, walaupun itu di sebut di dalam Al-Quran bahawa mereka para sahabat itu diredhai oleh ALLAH SWT, namun tidak ada dalam Ayat atau hadits Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam memerintahkan untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya, namun kerana kecintaan para Tabi’in kepada Sahabat, maka mereka menambahkannya dengan ucapan tersebut.


Inii merupakan Bid’ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas, lalu muncul pula kini Al-Quran yang di kasetkan, di “cakera keras” kan, Program Al-Quran di telefon bimbit, Al-Quran yang diterjemahkan, ini semua adalah Bid’ah hasanah.


Bid’ah yang baik dan yang berfaedah untuk tujuan kemaslahatan muslimin, kerana dengan adanya Bid’ah hasanah di atas, maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.


Sekiranya kita berundur kebelakang sejarah Islam, bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apakah yang bakal terjadi pada perkembangan sejarah Islam ?


Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit unta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebahagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu Versi Al-Quran di zaman sekarang, kerana semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, yang masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam.


Namun dengan adanya Bid’ah Hasanah, sekarang kita masih mengenali Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid’ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah SAW, maka jadilah Islam ini kukuh dan abadi, jelaslah sudah sabda Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam yang telah membolehkannya.


Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam telah mengetahui dengan jelas bahawa perkara-perkara baru yang berupa kebaikan (Bid’ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam telah melarang perkara-perkara baru yang berupa keburukan (Bid’ah dhalalah).


Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua, ingatlah ucapan Amirulmukminin pertama ini, ketahuilah ucapan-ucapannya adalah Mutiara Al-Qur’an, sosok agung Abu Bakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid’ah hasanah : “sampai ALLAH SWT menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Lalu berkata pula Zeyyid bin haritsah ra :”..bagaimana kalian berdua (Abu Bakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah SAW?, maka Abu Bakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun (Abubakar ra) meyakinkanku (Zayyid) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua”. Maka kuhimbau saudara saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal-hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abu Bakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zayyid bin haritsah ra, hati para sahabat, iaitu hati yang dijernihkan ALLAH SWT.


Curigalah kepada dirimu apabila engkau sedari bahawa dirimu mengingkari hal ini, barangkali hatimu belum dijernihkan oleh ALLAH SWT, kerana tidak mahu sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid’ah hasanah, dan Baginda Shollallahu Alaihhi Wassalam sudah mengingatkanmu bahawa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa’urrasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.


ALLAH SWT menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abu Bakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat.. amiin



Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid’ah


1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam Muhammad bin Idris Assyafii rahimahullah (Imam Syafii)


Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah terbahagi kepada dua, iaitu bid’ah mahmudah (terpuji) dan bid’ah madzmumah (tercela), maka yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela, beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai solat tarawih : “inilah sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)


2. Al Imam Al Hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah


“Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafii), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi SAW yang berbunyi : “seburuk buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah” (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksudkan adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shollallahu Alaihhi Wassalam, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya : “Barangsiapa melakukan perkara baru yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya” (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)


3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)


“Penjelasan mengenai hadits : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya”, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw : “semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat”, sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela”. (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105) Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi 5, yaitu Bid’ah yang wajib, Bid’ah yang mandub, bid’ah yang mubah, bid’ah yang makruh dan bid’ah yang haram.


Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan-ucapan yang menentang kemungkaran, contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tidak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku-buku ilmu syariah, membangun majlis taklim dan pondok-pondok, dan Bid;ah yang Mubah adalah bermacam macam dari jenis makanan, dan Bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui, demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum, sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik-baik bid’ah”. (Syarah Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)


4. Al-Hafidh Al-Muhaddits Al-Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah


Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah” ini bermakna “Aammun makhsush”, (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman ALLAH SWT : “… yang Menghancurkan segala sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya” QS Assajdah-13), dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka, tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim.pen) atau hadits : “aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini” (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasulullah Shollallahu Alaihhi Wassalam ) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).


Maka, apabila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka?, berdasarkan apa pemahaman mereka?, atau seorang yang disebut imam padahal ia tak mencapai darjat hafidh atau muhaddits?, atau hanya ucapan orang yang tidak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?


Walillahittaufiq


Edit:

Almukminun

09 Syawal 1429

http://almukminun.blogspot.com/


"وصلى اللّه على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم"

Tiada ulasan: